Kamis, 05 Mei 2016

REKOMENDASI PENGENDALIAN HAMA PENGHISAP BUNGA LADA (Diconocoris hewetti) PADA PERTANAMAN LADA



Salah satu faktor utama yang dapat menurunkan produksi lada adalah serangan hama. Serangan hama dapat terjadi sejak tanaman di pembibitan hingga produktif di lapangan. Bagian tanaman yang diserang antara lain bunga, buah, pucuk, cabang, dan batang. Serangan pada bagian yang produktif dapat berakibat langsung terhadap kehilangan hasil, sedangkan serangan pada bagian vegetatif, selain berakibat tidak langsung terhadap kehilangan hasil dapat pula mengakibatkan kematian tanaman.

Serangan hama lada dengan menunjukkan gejala serangan pada tangkai lada dimana tangkai bunga lada yang terserang menjadi berwarna hitam. Warna tangkai yang menghitam ini diduga merupakan akibat dari serangan hama penghisap bunga lada atau Diconocoris hewetti Dist., dimana hama ini menghisap cairan tangkai bunga. Pada serangan yang berat maka bunga akan menjadi gugur.

Hama penghisap bunga lada atau disebut juga “kepik renda lada” merupakan salah satu hama utama yang menyerang pertanaman lada di provinsi Kalimantan Barat dan mudah ditemukan di sentra-sentra pertanaman lada seperti di kabupaten Pontianak, Sintang, Bengkayang, Sanggau dan Sambas. Luas serangan oleh hama ini yang dilaporkan pada tahun 2015 mencapai 281 hektar dengan estimasi kerugian hasil mencapai 78.300.000 rupiah.

Senin, 18 April 2016

Kajian Penambahan Perekat Alami Untuk Pestisida Nabati Tahun Anggaran 2015

Kumbang janur kelapa (Brontispa longgissima Gestro) saat ini menjadi ancaman bagi perkelapaan nasional maupun internasional. Serangan berat hama ini dapat mengakibatkan penurunan produksi hingga 50% dan kematian tanaman muda sekitar 5% (Balitka, 2009). 
Hama Brontispa longgissima dilaporkan pertama kali dari Kep. Aru (Kep. Maluku) pada tahun 1885. Hama yang diduga berasal dari Indonesia (Kep. Aru dan Prop. Papua) dan Papua Nugini, pada awalnya tidak menimbulkan masalah serius karena hanya terbatas pada beberapa wilayah, namun pada beberapa tahun belakangan ini, telah menyebar luas ke hampir seluruh propinsi di Indonesia dan beberapa Negara di Asia Pasisik. Brontispa Longgissima  menyerang semua tingkat umur tanaman, mulai tanaman yang masih di pembibitan sampai pada tanaman kelapa tua di lapangan. Serangan berat hama ini dapat mengakibatkan penurunan produksi kelapa bahkan kematian tanaman. Kehilangan hasil bisa mencapai 50% di Kec. Inobonto, Kab. Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara pada Bulan April 2008 menunjukkan sekitar 5% tanaman muda mati akibat serangan hama Brontispa longgissima (Balitka, 2009).  

Rabu, 30 Maret 2016

REKOMENDASI PENGENDALIAN ULAT KANTUNG METISA PLANA PADA TANAMAN KELAPA SAWIT


Ulat pemakan daun kelapa sawit (UPDKS) merupakan salah satu hama penting pada tanaman kelapa sawit. Terdapat banyak jenis ulat UPDKS baik dari golongan ulat api, ulat kantong ataupun ulat bulu. Salah satu jenis ulat UPKDS yang mulai banyak menyerang di Provinsi Kalimantan Barat adalah Ulat kantong Metisa plana.

Ulat Kantong (Metisa plana Wlk) merupakan salah satu kelompok ulat pemakan daun kelapa sawit yang merugikan pada perkebunan kelapa sawit. Secara umum ulat kantong merupakan perusak dan diketahui sebagai serangga perusak pada berbagai tanaman. Ulat kantong merupakan hama penting yang paling sering muncul pada perkebunan sawit disebabkan potensinya untuk mencapai titik puncak serangan. Ambang batas untuk ulat kantong ini adalah 5-10 ulat per pelepah.

Metisa plana merusak tanaman kelapa sawit dengan memakan daun tanaman untuk perkembangan tubuhnya dan untuk pembentukan kantongnya. Larva ulat kantong lebih suka memakan daun bagian atas dan daun bagian bawah untuk menggantung dan membentuk kantong. Kerusakan pada tanaman kelapa sawit akan terlihat secara jelas ketika sudah terjadi defoliasi sebesar 50%. Kerusakan pada tingkat ini akan mengurangi hasil hingga 10 ton TBS/ha.

Disebut ulat kantong karena hidup di dalam sebuah bangunan mirip kantung yang berasal dari potongan-potongan daun, tangkai bunga tanaman inang, disekitar daerah serangan. Larva ulat kantung sangat aktif makan sambil membuat kantung dari potongan daun yang agak kasar atau kasar. Selanjutnya larva bergerak dan makan dengan hanya mengeluarkan kepala dan kaki depannya dari dalam lubang. Larva mula-mula berada pada permukaan atas daun, tetapi setelah kantung semakin besar berpindah menggantung dibagian permukaan bawah daun kelapa sawit.

Selasa, 24 November 2015

PELEPASAN PARASITOID PUPA TETRASTICHUS BRONTISPAE UNTUK MENGENDALIKAN HAMA KUMBANG JANUR KELAPA DI KELOMPOK TANI TUNAS BARU



Di Provinsi Kalimantan Barat, Kumbang Janur kelapa (Brontispa longissima) dan kumbang bibit kelapa (Plesispa reichei) merupakan hama utama pada tanaman kelapa selain hama kumbang utama Oryctes rhinoceros dan telah menyerang secara endemis di beberapa daerah antara lain di kabupaten Pontianak. Tingkat kerusakan akibat serangan hama ini bervariasi dari mulai ringan hingga kerusakan berat. Serangan berat pada bibit kelapa dapat menyebabkan kematian tanaman sedangkan serangan pada tanaman kelapa belum menghasilkan dapat menyebabkan berkurangnya potensi hasil kelapa yang dihasilkan.

Salah satu upaya pengendalian yang dinilai efektif dan efisien adalah dengan menggunakan musuh alami. Salah satu musuh alami dari kumbang janur kelapa adalah parasitoid pupa Tetrastichus brontispae. Tingkat parasitasi musuh alami ini berkisar antara 60-90 %, sementara pada kondisi di lapangan parasitasinya dapat bertahan 30-60%.

Meskipun  mempunyai banyak kelebihan, akan tetapi pengendalian hayati masih belum dapat diaplikasikan dengan baik di lapangan. Hal ini salah satunya dikarenakan kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai metode pengendalian hayati di tingkat petani. Oleh karena itu BPTP Pontianak sebagai instansi yang membidangi perlindungan perkebunan perlu lebih mengenalkan metode pengendalian hayati ini kepada petani kelapa khususnya di Kalimantan Barat.

PERBANYAKAN PARASITOID TETRASTICHUS BRONTISPAE T. A. 2015


Hama Kumbang Janur Kelapa dan Kumbang bibit Kelapa (Brontispa longissima dan Plesispa reichei) sudah lama berstatus sebagai organisme pengganggu tumbuhan (OPT) penting di provinsi Kalimantan Barat. Kerusakan tanaman kelapa oleh hama ini terjadi sejak dari mulai pembibitan hingga tanaman dewasa dan menimbulkan kerugian yang cukup besar. Kerugian hasil akibat serangan kumbang ini ditaksir mencapai 57,591.203,8 rupiah dengan luas kerusakan kebun mencapai 2456 hektar di 7 kabupaten di provinsi Kalimantan Barat.

Sejak tahun 2011, BPTP Pontianak melakukan terobosan untuk mulai melakukan pengendalian hayati kumbang janur kelapa ini dengan mengkombinasikan 3 tehnik pengendalian yaitu penggunaan agens hayati entomopatogen Metarhizium  sp dan parasitoid pupa Tetrastichus brontispae serta pengendalian secara mekanis.

Pengendalian hayati baik menggunakan predator, parasitoid maupun jamur entomopatogen berpotensi besar untuk dilakukan pada tanaman perkebunan mengingat karakteristik perkebunan yang relatif rata-rata berukuran lahan luas, serta tanaman-tanaman yang tinggi cukup sulit bila dilakukan pengendalian non hayati karena membutuhkan biaya, waktu, dan tenaga yang besar. Pengendalian secara hayati adalah salah satu solusi untuk mengatasi kendala-kendala tersebut karena cukup mudah dilakukan, berjangka panjang dan tentu saja tidak menimbulkan efek yang membahayakan baik terhadap jasad hidup lainnya, manusia maupun lingkungan.