Sabtu, 29 April 2017

UPAYA PENINGKATAN KINERJA BPTP PONTIANAK MELALUI PELAYANAN PUBLIK YANG TERSTANDARISASI

Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak merupakan salah satu unit pelaksana teknis dari Direktorat Jenderal Perkebunan yang mempunyai tugas untuk “Melaksanakan Analisis Teknis dan Pengembangan Proteksi Tanaman Perkebunan”. Visi  Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak yaitu “ Menjadi Instansi yang Profesional dalam Memberikan Pelayanan Teknis Perlindungan Perkebunan bagi Pelaku Usaha Perkebunan”

Adapun Misi Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak meliputi : meningkatkan pengembangan teknologi pelindungan perkebunan yang berwawasan lingkungan; meningkatkan pelayanan analisis perlindungan perkebunan kepada pelaku usaha perkebunan; memperkuat Sistem Informasi Manajemen Perlindungan Perkebunan (SIMPP); penegakan hukum di bidang perlindungan perkebunan. Ruang lingkup tugas dari Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak adalah melaksanakan identifikasi Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Perkebunan; melaksanakan analisis data serangan dan perkembangan situasi OPT serta faktor yang mempengaruhi; melaksanakan analisis data gangguan usaha perkebunan dan dampak anomali iklim serta faktor yang mempengaruhi; melaksanakan pengembangan teknologi perbanyakan dan pelepasan agensia hayati OPT perkebunan; melaksanakan pengembangan metode peramalan, model peramalan, taksasi kehilangan hasil, dan teknik pengendalian OPT perkebunan; melaksanakan eksplorasi dan inventarisasi musuh alami OPT perkebunan

Jumat, 28 April 2017

UJI KEEFEKTIFAN PESTISIDA NABATI ASAP CAIR DAN MITOL 20 EC UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT BERCAK DAUN KELAPA SAWIT

Erlan Ardiana Rismansyah. 2017. UJI KEEFEKTIFAN PESTISIDA NABATI ASAP CAIR DAN MITOL 20 EC UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT BERCAK DAUN KELAPA SAWIT. Gangguan OPT yang dominan pada pembibitan kelapa sawit adalah serangan penyakit bercak daun yang disebabkan oleh beberapa macam patogen. Penyakit ini sangat merugikan karena dapat menghambat pertumbuhan seperti bibit menjadi kerdil, memperlama umur pembibitan, meningkatkan kematian saat penanaman, memperlama masa tanaman belum menghasilkan (TBM), menurunkan nilai jual dan menjadi sumber inokulum bibit lain. Kegiatan pengendalian yang dilakukan petani secara intensif baik menggunakan fungisida, pemangkasan dan pengasingan bibit hanya mampu mengurangi penyebaran penyakit ke bibit sehat. Kegiatan pengendalian yang dilakukan petani secara intensif baik menggunakan fungisida, pemangkasan dan pengasingan bibit hanya mampu mengurangi penyebaran penyakit ke bibit sehat. Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dikembangkan adalah penggunaan fungisida nabati karena memiliki beberapa kelebihan antara lain bersifat ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas fungisida nabati terhadap intensitas serangan penyakit bercak daun pada pembibitan kelapa sawit.

KAJIAN LABORATORIUM PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT BERCAK DAUN KELAPA SAWIT

Erlan Ardiana Rismansyah. 2017. KAJIAN LABORATORIUM PENGGUNAAN PESTISIDA NABATI UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT BERCAK DAUN KELAPA SAWIT. Pengembangan perkebunan kelapa sawit tidak terlepas dari kegiatan pembibitan. Pertumbuhan bibit menjadi kriteria penting yang dapat menentukan keberhasilan produksi sawit di lapangan. Oleh karena itu, keberadaan penyakit pada pembibitan kelapa sawit dapat menjadi faktor pembatas, terutama terjadi pada petani sawit rakyat. Salah satu penyakit yang mudah ditemukan dan sulit dikendalikan adalah penyakit bercak coklat. Penyakit ini sangat merugikan karena dapat menghambat pertumbuhan seperti bibit menjadi kerdil, memperlama umur pembibitan, meningkatkan kematian saat penanaman, memperlamamasa tanaman belum menghasilkan (TBM), menurunkan nilai jual dan menjadi sumber inokulum bibit lain. Kegiatan pengendalian yang dilakukan petani secara intensif baik menggunakan fungisida, pemangkasan dan pengasingan bibit hanya mampu mengurangi penyebaran penyakit ke bibit sehat. Salah satu alternatif pengendalian yang dapat dikembangkan adalah penggunaan fungisida nabati karena memiliki beberapa kelebihan antara lain bersifat ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi asap cair sebagai fungisida nabati dalam menghambat pertumbuhan koloni jamur Curvularia sp, sebagai patogen penyebab penyakit bercak daun pada pembibitan kelapa sawit.

EFIKASI ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN KOLONI JAMUR PHYTOPHTHORA CAPSICI, PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG LADA

Erlan Ardiana Rismansyah. 2016. EFIKASI ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN KOLONI JAMUR PHYTOPHTHORA CAPSICI, PATOGEN PENYEBAB PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG LADA. Salah satu penyakit utama pada tanaman lada adalah penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB). Ditjenbun melaporkan penyakit tersebut pada akhir tahun 2007 menyebabkan kehilangan hasil sebesar Rp. 19 milyar. Penyakit BPB saat ini telah terdapat di seluruh daerah pertanaman lada, di Indonesia. Penggunaan fungisida sintetik masih banyak digunakan oleh petani dalam pengendalian penyakit busuk pangkal batang, dengan alasan mudah didapat, praktis dalam aplikasi, petani tidak perlu membuat sediaan sendiri, tersedia dalam jumlah yang banyak dan hasil relatif cepat terlihat. Namun penggunaan pestisida sintetik menimbulkan pengaruh samping yang merugikan, seperti munculnya resistensi pada OPT sasaran, resurgensi OPT utama, eksplosi OPT sekunder, dan terjadinya pencemaran lingkungan.

POTENSI IN VITRO ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI FUNGISIDA NABATI TERHADAP JAMUR AKAR PUTIH, RIGIDOPORUS LIGNOSUS




Erlan Ardiana Rismansyah. 2016. POTENSI IN VITRO ASAP CAIR TEMPURUNG KELAPA SEBAGAI FUNGISIDA NABATI TERHADAP JAMUR AKAR PUTIH, RIGIDOPORUS LIGNOSUS. Penyakit  pada  tanaman  karet seringkali  menimbulkan  kerugian  besar  bagi petani.  Salah satu penyakit yang  paling  penting  adalah penyakit  jamur  akar  putih. Penggunaan fungisida sintetik masih banyak digunakan oleh petani dalam pengendalian penyakit busuk pangkal batang, dengan alasan mudah didapat, praktis dalam aplikasi, petani tidak perlu membuat sediaan sendiri, tersedia dalam jumlah yang banyak dan hasil relatif cepat terlihat. Namun penggunaan pestisida sintetik menimbulkan pengaruh samping yang merugikan, seperti munculnya resistensi pada OPT sasaran, resurgensi OPT utama, eksplosi OPT sekunder, dan terjadinya pencemaran lingkungan.