Rabu, 21 Maret 2018

KUMBANG PENGGEREK RANTING KOPI

Dokumentasi kumbang penggerek ranting/cabang kopi. Pada video pertama adalah kumbang dewasa betina (warna hitam). Sementara pada video kedua selain kumbang betina, terdapat pula imago jantan (berwarna merah dan jantan ini tidak bersayap sehingga tidak bisa terbang) serta larva dari kumbang. Sampel diambil dari kebun kopi (organik) di desa Punggur Besar, Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya



Senin, 12 Maret 2018

BIMBINGAN TEKNIS INSTRUKTUR BRIGADE PROTEKSI TANAMAN (BPT), WHIZZPRIME HOTEL BOGOR, 6-10 MARET 2018

Berdasarkan Undang-undang Nomor 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan menyebutkan bahwa pelaksanaan perlindungan tanaman perkebunan menjadi tanggung jawab Pelaku Usaha Perkebunan, Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya dan Pemerintah Pusat. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1995 tentang Perlindungan Perkebunan menyatakan bahwa pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) oleh Pemerintah dilakukan apabila terjadi eksplosi. Dalam kondisi eksplosi OPT, dibutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam penanganannya namun sering kali harus melalui mekanisme penanganan yang panjang dari segi pengambilan keputusan, penyediaan anggaran, penyediaan alat dan bahan pengendalian, serta mobilisasi saat pengendalian. Kondisi tersebut menjadikan pengendalian OPT tidak efektif dan luas serangan semakin bertambah sehingga mengakibatkan kerugian yang besar di tingkat petani. 

Sejak tahun 2013 Direktorat Perlindungan Perkebunan telah melakukan revitalisasi terhadap fungsi Brigade Proteksi Tanaman (BPT) yang tersebar di seluruh provinsi di Indonesia dengan menempatkan kembali fungsi BPT dalam membantu petani mengendalikan OPT pada situasi eksplosi atau pada sumber-sumber serangan yang berpotensi untuk menimbulkan eksplosi sesuai dengan jenis dan pola perilaku OPT yang menyerangnya. Oleh karena itu personil BPT sebagai motor penggerak petani dalam melakukan tindakan pengendalian OPT harus terampil dan terlatih. Untuk melatih petugas BPT tersebut dibutuhkan instruktur dengan kompetensi yang memadai dalam teknik pengendalian OPT termasuk penggunaan sarana dan prasana pengendalian OPT.

Minggu, 04 Maret 2018

PUBLIC HEARING STANDAR PELAYANAN PUBLIK (SPP) BALAI PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN PONTIANAK TAHUN 2018

Undang-Undang nomor 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik telah mewajibkan setiap penyelenggara pelayanan publik menyusun dan menetapkan standar pelayanan publik sebagai acuan dalam penyelenggaraan pelayanan publik di lingkungan masing-masing. Undang-undang tersebut mewajibkan penyelenggara mengikutsertakan masyarakat dan pihak terkait dalam menyusun dan menetapkan standar pelayanan publik yang selanjutnya disebut standar pelayanan. 

Dengan amanat tersebut maka pada tanggal 28 Februari tahun 2018, bertempat di Gedung Pertemuan Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak, BPTP Pontianak telah melakukan kegiatan Publik Hearing. Kegiatan ini dilaksanakan untuk mensosialisasikan Standar Pelayanan Publik yang berlaku di Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak kepada masyarakat pengguna pelayanan dan stake holder terkait.

Sabtu, 03 Maret 2018

CARA ULAT KANTONG MAHASENA CORBETTI BERJALAN DENGAN MEMBAWA KANTONGNYA?

Hari sabtu ini (3/3/2018) saya memanfaatkan waktu kembali dengan beraktivitas di laboratorium. Dan seperti hari-hari sebelumnya, kegiatannya tidak jauh dari memelihara ulat kantong. Selama memelihara ulat kantong sering melihat bagaimana ulat tersebut berjalan (sambil menggendong rumah kantongnya tersebut) tapi tidak terfikir untuk didokumentasikan. Nah... hari ini ketika saya sedang memberi makan, ternyata ada seekor ulat kantong yang mencoba berjalan keluar dari wadah rearing dengan mengendap-endap mipir-mipir pinggir toples... dan ketahuan deh..... he...he...he... Dan  kamu yang bandel akhirnya masuk lagi ke dalam wadah rearing...

Rabu, 28 Februari 2018

... DAN PARASITOID ULAT KANTONG PUN AKHIRNYA MUNCUL....

Pada beberapa waktu yang lalu kami sempat menemukan satu parasitoid yang keluar ketika kami sedang melakukan rearing ulat kantong di laboratorium kami (cek disini). Dan kemaren (27/2/2018) ternyata ada lagi parasitoid yang keluar dari ulat kantong Mahasena corbetti yang direaring. Dan jumlahnya juga cukup banyak. 

Setelah dilihat dibawah mikroskop, ternyata agak berbeda dengan parasitoid yang keluar sebelumnya. 

Minggu, 18 Februari 2018

CPCL KEGIATAN REGU PROTEKSI DAN PENUMBUHAN KAWASAN ORGANIK DAN SIAGA OPT DI KABUPATEN MEMPAWAH


Gangguan pada tanaman perkebunan merupakan salah satu kendala dalam upaya pencapaian sasaran produksi, kerugian yang ditimbulkan masih cukup tinggi baik dari aspek produksi maupun dari segi ekonomi. Terlebih pada OPT-OPT yang bersifat eksplosif menyebabkan upaya pengendalian yang dilakukan menjadi lebih sulit karena serangannya yang bersifat mendadak. Saat ini penerapan teknologi pengendalian OPT oleh petani belum memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Oleh karena itu pengendalian sumber serangan merupakan daerah yang perlu perhatian, karena daerah tersebut merupakan titik awal dari serangan dan atau sumber peningkatan populasi.

Brigade Proteksi Tanaman (BPT) Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak merupakan suatu unit pelaksana pengendalian yang mempunyai tugas pokok membantu petani dalam pengendalian OPT di daerah sumber serangan dan daerah yang mengalami eksplosi serangan OPT. dalam pelaksanaanya BPT dapat dibantu oleh Regu Pengendalian Hama (RPH)/petani setempat. Peran BPT di lapangan sangat penting dalam mengambil/menentukan langkah operasional pengendalian untuk mengatasi kondisi tertentu terutama pada daerah yang permasalahan OPT nya belum dapat diatasi oleh petani secara mandiri.

Sehubungan dengan masalah tersebut maka Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Direktorat Perkebunan Kementerian Pertanian di daerah, perlu membentuk regu-regu proteksi kelompok tani yang mampu melakukan upaya perlindungan komoditas perkebunan terhadap serangan OPT, yang diusahakannya secara mandiri. Pembentukan regu proteksi bertujuan agar petani mempunyai pengetahuan, keterampilan serta kemampuan dalam melakukan pengendalian OPT mencakup pengetahuan dan keterampilan mengenai ekobiologi OPT, tehnik pengamatan, diagnosa dan pengambilan keputusan serta kemampuan melakukan pengendalian dengan tehnik pengendalian yang sesuai secara mandiri. Manfaat lebih lainnya dari adanya regu proteksi kelompok tani adalah kesiapan petani anggota regu proteksi kelompok tani dalam membantu instansi pemerintah dalam melakukan pengendalian ketika terjadi suatu serangan eksplosi OPT dalam skala besar dan cakupan wilayah yang cukup luas.

Untuk hal tersebut maka pada tahun anggaran 2018 ini direncanakan akan dibentuk 6 kelompok tani sebagai regu proteksi tanaman perkebunan, yang dua diantara direncanakan akan dilaksanakan di daerah lokasi penumbuhan kawasan organik dan siaga OPT TA 2018 yaitu di wilayah UPPT Sui Kunyit, yang bertujuan sebagai kegiatan penunjang untuk Penumbuhan kawasan organik dan siaga OPT di Kabupaten Mempawah.

Rabu, 07 Februari 2018

AKHIRNYA ULAT KEKETNYA HARUS DIKENDALIKAN SECARA MEKANIS

Sebagaimana telah saya tulis sebelumnya disini, telah terjadi serangan ulat keket (Attacus atlas) pada tanaman keben (Barringtonia asiatica) di kebun koleksi kantor saya. Serangannya cukup tinggi sehingga dalam waktu singkat daun-daun tanaman keben kami menjadi hanya tertinggal tulang daunnya saja. Maka untuk menyelamatkan pohon keben koleksi tersebut, sesuai instruksi, dilakukan pengendalian ulat keket dengan cara mekanis yaitu secara hand picking atau mengambil langsung ulat yang ada di tanaman dan dikumpulkan untuk kemudian dimusnahkan.