Senin, 07 April 2014

PENGAMATAN HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO DENGAN METODE SURVEILANS

PENDAHULUAN

Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang berperan penting di Indonesia. Data tahun 2007, luas komoditas kakao Indonesia luas 1.461.889 hektar, dengan jumlah pekebun kakao sebanyak 1.400.636 KK dan produksi mencapai 779.186 ton (No 2 di dunia setelah Pantai Gading) jelas memberikan kontribusi terhadap perekonomian Indonesia baik sebagai penghasil devisa negara, sumber pendapatan petani, penciptaan lapangan kerja petani, mendorong agribisnis dan agroindustri, penyangga kelestarian lingkungan hidup dan pengembangan wilayah (Hendradjat, 2008).

Meski berpotensi besar, produktivitas kakao di Indonesia masih terbentur oleh berbagai macam kendala antara lain umur tanaman yang sudah relatif tua, kurangnya pemeliharaan petani dan adanya gangguan dari organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang menyerang tanaman kakao. Ada banyak jenis OPT yang menyerang kakao, tetapi tiga terpenting di Indonesia adalah Hama Penggerek Buah Kakao (PBK), Penyakit Vascular Streak Dieback (VSD) dan penyakit Busuk buah.

PBK khusus menyerang buah kakao. Hama ini dapat menyerang mulai buah muda sampai dengan buah masak, akan tetapi lebih menyukai buah kakao yang panjangnya lebih dari 9 cm. Serangan PBK yang terjadi pada saat buah masih muda akan mengakibatkan kerusakan yang cukup berat karena biji saling lengket dan melekat kuat pada kulit buah, sehingga akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas biji kakao. 


Hama penggerek buah kakao saat ini telah menyerang hampir di seluruh provinsi penghasil kakao utama di Indonesia, termasuk di provinsi Kalimantan Barat. Mengingat PBK adalah hama penting pada usaha pertanaman kakao yang sulit dideteksi dan sulit dikendalikan maka untuk menanggulanginya perlu dilakukan berbagai cara yang merupakan satu paket penanggulangan yang penentuannya didasarkan pada tingkat serangan dan keadaan tanaman kakao.

Untuk menekan kehilangan hasil akibat serangan OPT tersebut, perlu tindakan dengan komponen pengendalian terpadu yang sudah tersedia. Tindakan pengendalian yang dilakukan akan berhasil baik dan efektif apabila didukung oleh data hasil pemantauan perkembangan OPT tersebut di lapangan. Efektivitas dan efisiensi suatu tehnik pengendalian ditentukan antara lain oleh ketepatan saat pengendalian. Untuk menentukan saat yang tepat dalam pengendalian PBK, diperlukan data pengamatan tingkat serangan OPT tersebut di lapangan.

Kegiatan pengamatan sangat penting artinya dalam pelaksanaan PHT, karena merupakan salah satu tahapan dalam kegiatan perlindungan tanaman perkebunan. Kegiatan ini meliputi pengumpulan informasi tentang populasi, tingkat serangan OPT perkebunan, keadaan pertanaman dan faktor-faktor abiotik dan biotik yang mempengaruhi perkembangan OPT tersebut. Namun demikian, kegiatan pengamatan OPT saat ini masih terkendala oleh banyak faktor antara lain SDM yang terbatas, luasnya areal pengamatan, banyaknya jenis OPT dan komoditas yang diamati serta metode pengamatan yang cukup rumit.


Salah satu pengembangan sistem pengamatan ditingkat wilayah adalah surveilen. Surveilen yaitu proses untuk mengumpulkan dan mencatat data tentang terjadinya atau keberadaan suatu OPT melalui survei, monitoring atau bentuk lain. Kelebihan metode ini adalah mengetahui secara cepat keberadaan serangan OPT dan persentase jumlah/areal terserang. Oleh karena itu metode ini sangat perlu dikembangkan di Provinsi Kalimantan Barat terutama untuk OPT-OPT penting perkebunan.

Sabtu, 05 April 2014

Kajian Klon-Klon Lokal Tahan Terhadap Penyakit Busuk Buah Phytophthorap palmivora di Lapangan

(Bagian 2 Dari 2 Tulisan)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan komoditas ekspor penting di Indonesia yang menjadi salah satu penyumbang terbesar devisa negara dari sektor non migas. Selain itu, komoditas ini juga menjadi penyedia lapangan kerja bagi lebih dari 800 ribu kepala keluarga. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, perkembangan luas areal perkebunan kakao meningkat secara pesat. Dengan tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun sekitar 8%, hingga tahun 2006, luas areal kakao sudah mencapai 1,1 juta hektar (Novariyanthy, M., dan Deden Indra Teja Maya, 2007).
Hampir 90% dari luasan tersebut merupakan perkebunan kakao rakyat. Secara umum, pada perkebunan kakao rakyat, pesatnya peningkatan luas areal tidak diimbangi dengan pesatnya peningkatan tingkat produktivitas maupun mutu. Pertumbuhan rata-rata produktivitas kakao rakyat hanya di bawah 1 % setiap tahunnya dengan mutu di bawah standar pasar internasional. Rendahnya mutu kakao rakyat tercermin dari diberlakukannya Automatic detention bagi biji kakao asal Indonesia oleh pasar Amerika Serikat (Novariyanthy, M., dan Deden Indra Teja Maya, 2007).
Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah telah menetapkan kebijakan revitalitasi komoditas kakao yang salah satu prioritas programnya adalah peningkatan produktivitas dan mutu kakao Indonesia sehingga dapat memenuhi permintaan pasar Internasional. Untuk mendukung program ini, faktor-faktor yang menjadi pembatas peningkatan produktivitas dan mutu kakao harus diminimalkan. Dari sisi perlindungan perkebunan, salah satu faktor pembatas dalam budidaya kakao adalah organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Berbagai OPT menyerang tanaman kakao di pertanaman yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 80%, bahkan dapat menyebabkan kematian tanaman apabila tidak dikendalikan secara tepat. Penyakit busuk buah yang disebabkan oleh Phytophthora palmivora merupakan penyakit utama tanaman kakao saat ini di seluruh dunia termasuk Indonesia.  Gejala serangan penyakit ini adalah buah kakao mempunyai bercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari pangkal buah. Intensitas serangan patogen ini dapat mencapai 85% pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan tinggi, dan dapat menyebabkan kerugian hasil lebih dari 20-40%, dan kematian pohon lebih dari 10% per tahun (Beding at. al., 2002; Flood et. al., 2004; Pawirosumardjo dan Purwantara, 1992 dalam Sulistyowati et. al., 2003; Sukamto, 2003 dalam Lologau, 2010)). Demikian pula di Sulawesi Selatan, intensitas penyakit ini berkisar 25-50% pada musim kemarau dan dapat mencapai 60% pada musim hujan, dengan kerugian hasil mencapai 40% (Lologau, 2010).
Berdasarkan UU Nomor 12 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 1995, kegiatan penanganan OPT merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat yang dilaksanakan dengan menerapkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) yaitu menggunakan dan atau mengkombinasikan dua atau lebih teknologi pengendalian yang kompatibel. Salah satunya adalah penggunaan klon atau varietas tahan OPT.

Kajian Klon-Klon Lokal Tahan Terhadap Penyakit Busuk Buah Phytophthorap palmivora Di Laboratorium

(Bagian 1 Dari 2 Tulisan)

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan komoditas ekspor penting di Indonesia yang menjadi salah satu penyumbang terbesar devisa negara dari sektor non migas. Selain itu, komoditas ini juga menjadi penyedia lapangan kerja bagi lebih dari 800 ribu kepala keluarga. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, perkembangan luas areal perkebunan kakao meningkat secara pesat. Dengan tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun sekitar 8%, hingga tahun 2006, luas areal kakao sudah mencapai 1,1 juta hektar (Novariyanthy, M., dan Deden Indra Teja Maya, 2007).
Hampir 90% dari luasan tersebut merupakan perkebunan kakao rakyat. Secara umum, pada perkebunan kakao rakyat, pesatnya peningkatan luas areal tidak diimbangi dengan pesatnya peningkatan tingkat produktivitas maupun mutu. Pertumbuhan rata-rata produktivitas kakao rakyat hanya di bawah 1 % setiap tahunnya dengan mutu di bawah standar pasar internasional. Rendahnya mutu kakao rakyat tercermin dari diberlakukannya Automatic detention bagi biji kakao asal Indonesia oleh pasar Amerika Serikat (Novariyanthy, M., dan Deden Indra Teja Maya, 2007).
Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah telah menetapkan kebijakan revitalitasi komoditas kakao yang salah satu prioritas programnya adalah peningkatan produktivitas dan mutu kakao Indonesia sehingga dapat memenuhi permintaan pasar Internasional. Untuk mendukung program ini, faktor-faktor yang menjadi pembatas peningkatan produktivitas dan mutu kakao harus diminimalkan. Dari sisi perlindungan perkebunan, salah satu faktor pembatas dalam budidaya kakao adalah organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Berbagai OPT menyerang tanaman kakao di pertanaman yang dapat menyebabkan kehilangan hasil sampai 80%, bahkan dapat menyebabkan kematian tanaman apabila tidak dikendalikan secara tepat. Penyakit busuk buah yang disebabkan oleh Phytophthora palmivora merupakan penyakit utama tanaman kakao saat ini di seluruh dunia termasuk Indonesia.  Gejala serangan penyakit ini adalah buah kakao mempunyai bercak coklat kehitaman, biasanya dimulai dari pangkal buah. Intensitas serangan patogen ini dapat mencapai 85% pada daerah-daerah yang mempunyai curah hujan tinggi, dan dapat menyebabkan kerugian hasil lebih dari 20-40%, dan kematian pohon lebih dari 10% per tahun (Beding at. al., 2002; Flood et. al., 2004; Pawirosumardjo dan Purwantara, 1992 dalam Sulistyowati et. al., 2003; Sukamto, 2003 dalam Lologau, 2010)). Demikian pula di Sulawesi Selatan, intensitas penyakit ini berkisar 25-50% pada musim kemarau dan dapat mencapai 60% pada musim hujan, dengan kerugian hasil mencapai 40% (Lologau, 2010).
Berdasarkan UU Nomor 12 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 6 tahun 1995, kegiatan penanganan OPT merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat yang dilaksanakan dengan menerapkan sistem pengendalian hama terpadu (PHT) yaitu menggunakan dan atau mengkombinasikan dua atau lebih teknologi pengendalian yang kompatibel. Salah satunya adalah penggunaan klon atau varietas tahan OPT.

KAJIAN PELEPASAN PREDATOR CECOPET UNTUK PENGENDALIAN KUMBANG JANUR KELAPA DI LAPANGAN

Kumbang Janur kelapa (Brontispa longissima) dan kumbang bibit kelapa (Plesispa reichei) merupakan hama utama pada tanaman kelapa di provinsi Kalimantan Barat, selain hama kumbang kelapa Oryctes rhinoceros. Lokasi yang diketahui merupakan daerah endemis serangan hama janur kelapa, antara lain di kabupaten Pontianak dan Kubu Raya. Tingkat kerusakan akibat serangan hama ini bervariasi dari ringan hingga berat. Serangan berat pada bibit kelapa dapat menyebabkan kematian tanaman sedangkan serangan pada tanaman kelapa belum menghasilkan dapat menyebabkan berkurangnya potensi hasil kelapa yang dihasilkan. Kerugian akibat serangan kedua kumbang ini di Kalimantan Barat diestimasi pada tahun 2011 ini sebesar 57.591.203,8 rupiah.
Program pengembangan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) lebih mengutamakan pada sistem pengendalian non-kimiawi termasuk pemanfaatan agensia pengendalian hayati. Pada komoditas kelapa salah satu musuh alami yang bisa dimanfaatkan adalah Cecopet yang merupakan predator hama kumbang janur (Brontispa longissima) dan hama kumbang bibit kelapa (Plesispa reichei).
Upaya pengendalian yang dinilai efektif dan efisien adalah dengan menggunakan musuh alami. Cecopet diketahui merupakan predator yang potensial untuk mengendalikan hama Kumbang Janur dan Kumbang Bibit pada tanaman kelapa. Pengendalian Hama Terpadu (PHT) lebih mengutamakan pemanfaatan agensia hayati. Untuk menjaga keefektifan predator cecopet, maka keberadaannya di lapangan perlu dipelihara dengan melakukan dengan melakukan penambahan populasi (augmentasi) pada saat populasi hama meningkatkan atau ketika populasi  predator sedikit.
Optimasi populasi serangga predator hama dilakukan melalui tindakan augmentasi dan konservasi. Augmentasi dilakukan dengan menambahkan jumlah predator ke lapangan agar populasi predator dapat mengendalikan hama. Tindakan konservasi adalah memberikan lingkungan yang mendukung serangga predator untuk dapat berperan sebagai agensia pengendali secara hayati sehingga usaha penyemprotan insektisida dapat diminimalkan. Tehnik konservasi yang dilakukan adalah dengan memodifikasi lingkungan hidup predator yang sesuai dengan perkembangan predator seperti membuat sarang buatan, penyediaan tanaman lain sebagai makanan  alternatif predator atau tindakan budidaya yang dapat menjamin keberadaan populasi predator dalam jumlah yang banyak.
Meskipun  mempunyai banyak kelebihan, akan tetapi pengendalian hayati termasuk penggunaan predator masih belum dapat diaplikasikan dengan baik di lapangan. Hal ini dikarenakan belum diketahui data mengenai keefektifan predator cecopet untuk mengendalikan hama kumbang janur kelapa di provinsi Kalimantan Barat baik skala laboratorium maupun lapangan, serta metode perbanyakan massal predator cecopet di laboratorium. Oleh sebab itu perlu dilakukan pengkajian tentang kemampuan predator cecopet dalam memangsa kumbang janur kelapa dan evaluasi pengendaliannya di lapangan.
Tujuan kegiatan Monitoring Pengendalian kumbang janur kelapa Dengan Predator Dermaptera adalah memonitor kegiatan pengendalian kumbang janur kelapa menggunakan musuh alami (predator cecopet, earwig, Ordo Dermaptera) yang diperbanyak secara massal di laboratorium dan dilepas kembali ke lapangan.
Kegiatan monitoring pengendalian kumbang janur kelapa dengan menggunakan predator Dermaptera dilaksanakan melalui beberapa sub kegiatan yaitu penentuan lokasi kegiatan, eksplorasi dan pengumpulan predator, perbanyakan predator cecopet di laboratorium, pengujian kemampuan predasi di laboratorium, pelepasan predator di lapangan serta evaluasi pelepasan predator.

Jumat, 04 April 2014

Mengatasi OPT Pada Pembibitan Kelapa Sawit

Perkembangan pembangunan perkebunan di wilayah Kalimantan Barat yang semakin luas, diiringi dengan resiko meningkatnya perkembangan berbagai hama dan penyakit sehingga menjadi kendala di dalam meningkatkan produksi dan kualitas hasil perkebunan. Salah satu komoditas perkebunan di Kalimantan Barat yang berkembang dengan pesat adalah kelapa sawit. Berdasarkan data statistik perkebunan tahun 2010, lahan kelapa sawit di Kalimantan Barat adalah 750.948 hektar dengan produktivitas mencapai 2.447 kg per hektar per tahun. Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) kelapa sawit terjadi sejak dari periode benih, pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM) hingga tanaman menghasilkan (TM).
Penyakit pada daun merupakan salah satu penyakit yang sering menyerang tanaman kelapa sawit pada fase pembibitan. Penyakit daun bibit sawit dapat disebabkan oleh faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik biasanya terjadi karena faktor genetik sehingga menyebabkan daun bibit menjadi abnormal seperti munculnya gejala daun kaku, daun tegak, tanaman menjadi kerdil, bercak jingga dan lain-lain. Selain karena faktor genetis, penyebab abiotik juga dapat dikarenakan karena perlakuan budidaya yang tidak tepat seperti terlambat pindah tanam dan jarak tanam yang terlalu rapat.   Faktor biotik yang menyebabkan penyakit pada daun bibit sawit terjadi karena adanya serangan patogen (jamur, bakteri). Berbeda dengan gejala abiotik, serangan patogen dapat menyebar dari tanaman sakit ke tanaman sehat disekelilingnya. Ada beberapa patogen penyebab penyakit daun pada pembibitan kelapa sawit antara lain jamur Curvularia sp, Helminthosporium, Dhresclera, Melanconium, dan Botrydiplodia.  Gejala yang tampak pada tanaman terserang dapat berupa bercak daun, antraknose, mati akar/layu ataupun terjadinya busuk daun bibit kelapa sawit. Untuk mengatasi penyakit-penyakit daun ini khususnya yang disebabkan oleh patogen maka diperlukan upaya-upaya pengendalian secara khusus.

Kamis, 03 April 2014

Pengaruh Insektisida Berbahan Aktif Dimehipo Terhadap Mortalitas Brontispa longissima Dan Selektivitasnya Terhadap Parasitoid Tetrastichus brontispae Di Laboratorium

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kumbang Janur Kelapa, Brontispa longissima merupakan hama penting pada tanaman kelapa, yang menyerang daun janur dan daun muda. Serangan B. longissima dapat menyebabkan terjadinya penurunan produksi kelapa bahkan hingga kematian pada tanaman. Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)  B. longissima diarahkan untuk dilaksanakan secara terpadu dengan mengkombinasikan berbagai cara pengendalian yang tersedia baik secara kultur budidaya, tanaman resisten, mekanik, fisik, biologi dan kimia, dengan penekanan lebih pada upaya pengendalian hayati yang aman bagi lingkungan, dan meletakkan pengendalian secara kimiawi sebagai alternatif terakhir pengendalian.
Di provinsi Kalimantan Barat pengendalian B. longissima telah banyak dilakukan dengan -menggunakan musuh-musuh alaminya. Bantuan pemerintah dalam bentuk paket pengendalian masih berperan besar sebagai bahan pemicu dan percontohan bagi petani dalam melaksanakan pengendalian. Paket pengendalian yang dilakukan saat ini mengkombinasikan pengendalian secara mekanis dengan memotong janur terserang, dengan penggunaan agen hayati dan kimia. Meski pengendalian yang dilaksanakan oleh pemerintah sudah memasukkan agen hayati seperti pelepasan secara massal parasitoid Tetrastichus brontispae dan penyemprotan jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae, tapi tetap memasukkan pengendalian kimiawi sebagai salah satu komponen dalam paket pengendalian. Hal ini dapat dilihat pada program pengendalian tahun 2013, penggunaan insektisida berbahan aktif Dimehipo menjadi salah satu komponen pengendalian disamping pengendalian secara mekanis (pemotongan janur) dan secara hayati (pelepasan parasitoid Tetrastichus brontispae). Dimehipo (Bisultap; tiosultap-sodium) merupakan insektisida sistemik yang bekerja sebagai racun kontak dan racun perut dan banyak digunakan untuk mengendalikan hama pada tanaman padi, jagung, kedelai serta kentang (Djojosumarto, 2008).

Rabu, 26 Maret 2014

Walang Sangit

Walang sangit merupakan hama yang umum merusak bulir padi pada fase pemasakan. Mekanisme merusaknya yaitu menghisap butiran gabah yang sedang mengisi. Apabila diganggu, serangga akan mempertahankan diri dengan mengeluarkan  bau.  Selain  sebagai  mekanisme pertahanan diri, bau yang dikeluarkan juga digunakan untuk menarik walang sangit lain dari spesies yang sama. Walang sangit merusak tanaman ketika mencapai fase berbunga sampai matang susu. Kerusakan yang ditimbulkannya menyebabkan beras berubah warna dan mengapur, serta gabah menjadi hampa.