Jumat, 05 September 2014

PANTAI TANAH HITAM KECAMATAN PALOH, KAB. SAMBAS, KALIMANTAN BARAT

Bonus dari perjalanan dinas demplot ke Paloh

Kajian Satu tahun Preservasi Jamur Patogen dan Antagonis dalam Air Steril

Pembuatan kultur cendawan maupun bakteri bertujuan untuk mempertahankan daya tumbuh/viabilitasnya dalam jangka waktu tertentu tanpa mengalami perubahan secara morfologi, fisiologi maupun secara genetik.  Dengan demikian, kultur harus dijaga agar tetap hidup selama dilakukan kajian, bahkan kadang-kadang harus dipertahankan dalam jangka waktu yang tidak  terbatas. Mempertahankan biakan dalam waktu lama menjadi penting terutama jika biakan tersebut  berasal  dari  type  spesimen  atau  type  material  serta  sudah terdaftar di dalam publikasi. Tanpa adanya kultur yang terpelihara baik akan sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan perbandingan taksonomi. Perbandingan taksonomi diperlukan dalam penentuan klasifikasi dan pemberian nama bagi takson yang baru.

UJI ANTAGONISME Trichoderma DEKOMPOSER KULIT BUAH KAKAO TERHADAP Phytophthora Palmivora

Erlan Ardiana Rismansyah. 2013. UJI ANTAGONISME Trichoderma DEKOMPOSER KULIT BUAH KAKAO TERHADAP Phytophthora Palmivora. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya antagonisme beberapa isolat jamur Trichoderma  spp. Dekomposer kulit buah kakao  terhadap  P.  palmivora  penyebab  penyakit  busuk  buah  kakao secara  in  vitro dan telah dilaksanakan di Laboratorium Mikologi Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak. Metode yang digunakan dalam pengujian ini adalah menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan menggunakan 7 Perlakuan (Trichoderma Isolat Singkawang (SKW)Sungai Kunyit -1 (SKY), Sungai Kunyit -2 (SKH), Sungai Kunyit -3 (SKA), isolat Sungai Raya (TSR), isolat Samalantan (SLM), isolat Toho (TH)) dan 4 ulangan. 7 isolat yang digunakan sebagai perlakuan adalah isolat Trichoderma yang digunakan sebagai dekomposer limbah kulit buah kakao. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Trichoderma dekomposer kulit buah kakao isolat Samalantan merupakan agen antagonis yang terbaik dari semua isolat yang diuji dengan tingkat penghambatan sebesar 52 %.

kata kunci : Dekomposer, Kakao, Trichoderma, Antagonisme, Phytophthora, Busuk Buah

Uji Beberapa Fungisida Sintetik Dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Phytophthora palmivora Penyebab Penyakit Busuk Buah Kakao Secara In Vitro

Erlan Ardiana Rismansyah. 2013. Uji Beberapa Fungisida Sintetik Dalam Menghambat Pertumbuhan Jamur Phytophthora palmivora Penyebab Penyakit Busuk Buah Kakao Secara In Vitro. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan penghambatan beberapa fungisida sintetik terhadap pertumbuhan jamur Phytophthora palmivora penyebab penyakit busuk buah kakao secara in vitro dalam media pertumbuhan sintetik. Penelitian  disusun  secara eksperimental dalam  rancangan  acak  lengkap (RAL)  dengan  10 perlakuan  meliputi sembilan jenis  fungisida (mancozeb 80 % azoxistrobin 200 g/l + difenokonazol 125 g/l, Dinikonazol 12,5%, Difenokonazol 250 g/l, Heksakonazol 50 g/l, Klorotalonil 75%, Asam Fosfit 400 g/l, tembaga hidroksida 77%, Benomil 50 %) dan 1 kontrol (tanpa fungisida) dan  masing-masing  perlakuan diulang  tiga  kali. Hasil pengujian menunjukkan bahwa jenis fungisida berpengaruh terhadap pertumbuhan koloni patogen. Penghambatan pertumbuhan  koloni  patogen tertinggi  terjadi  pada  medium  PDA  yang mengandung fungisida berbahan aktif mancozeb dan benomil,  yaitu  86,67% sedangkan penghambatan pertumbuhan koloni patogen terendah terjadi pada medium PDA  +  asam fosfit dengan tingkat penghambatan sebesar 8,52%.


kata kunci : fungisida, busuk buah, kakao, phytophthora palmivora, efikasi

Minggu, 31 Agustus 2014

DEMPLOT PENGENDALIAN KUMBANG KELAPA DI DESA TANAH HITAM, PALOH, KAB. SAMBAS TAHUN 2014

Kegiatan saya kali ini dilakukan pada tanggal 21-23 Agustus 2014 dan merupakan bagian dari kegiatan Demonstrasi Plot (Demplot) Pengendalian OPT Penting Tanaman Perkebunan Spesifik Kalimantan Barat 5 Lokasi yang dilaksanakan di wilayah binaan UPPT Paloh, Kabupaten Sambas. Demplot yang dilaksanakan adalah pengendalian hama Kumbang kelapa (Oryctes rhinoceros) menggunakan feromon dan insektisida biologis Metarhizium anisopliae.

Materi kegiatan berisi pengamatan dan penghitungan jumlah feromon yang dipasang di kebun kelapa terserang serta penjelasan tentang insektisida biologis dan demonstrasi aplikasi jamur entomopatogen Metarhizium anisopliae di sarang-sarang kumbang kelapa.

Pertemuan dengan Kelompok Tani Dusun Peria Desa Tanah Hitam Kecamatan paloh Kabupaten Sambas, yang disampaikan petugas dari BPTP Pontianak 2 orang, serta didampingi 3 petugas UPPT, serta diikuti 20 orang petani.

Kamis, 05 Juni 2014

Riam Merasap (Sanggau Ledo)

Bulan ini (Juni 2014) saya berkesempatan tugas lapang ke Sanggau Ledo, Kabupaten Bengkayang, dan ketika tugas telah selesai dijalankan, saya menyempatan diri untuk mengunjungi salah satu tempat wisata di daerah ini yaitu air terjun RIAM MERASAP.

Minggu, 27 April 2014

Pengaruh Asap Cair Terhadap Mortalitas Larva Brontispa Longissima Di Laboratorium Dengan Metode Food Poisoning

PENDAHULUAN
Brontispa longissima merupakan hama penting pada tanaman kelapa. Serangan B. longissima dapat menyebabkan terjadinya penurunan produksi kelapa bahkan hingga kematian pada tanaman. Usaha pengendalian hama tersebut telah banyak dilakukan dari mulai penggunaan insektisida kimia sintetik, mekanis maupun secara biologi dengan penggunaan musuh alami.
Penggunaan insektisida sintetik yang mengandung zat-zat kimia beresiko terhadap pencemaran lingkungan karena senyawa kimia yang terkandung di dalamnya sulit terdegredasi. Untuk mengurangi penggerek insektisida sintetik ini, perlu dilakukan terobosan-terobosan untuk memperoleh metode pengendalian baru yang relatif lebih aman terhadap lingkungan. Salah satu bahan yang dapat dikaji adalah penggunaan asap cair. 
Asap-cair merupakan bahan cair yang dihasilkan dari pembakaran terkontrol kayu-kayuan atau bagian tanaman lainnya bersifat antimikrobial. Saat ini asap-cair yang berasal dari tempurung kelapa telah digunakan untuk bahan pengawet ikan, tahu dan bahan makanan lainnya, serta digunakan sebagai pengganti asam semut untuk koagulan latek karet. Sebelumnya, banyak digunakan formalin untuk bahan pengawet makanan, terutama ikan dan tahu. Dengan adanya asap-cair, maka formalin yang membahayakan kesehatan manusia dapat diganti dengan asap-cair itu.
Asap-cair dari tempurung kelapa telah mulai banyak dijual di pasar yang utamanya digunakan sebagai bahan pengawet makanan dan pembeku latek (koagulan). Bahan ini tidak membahayakan manusia, karena kandungan bahan yang berbahaya seperti senyawa Benzo(a)-piren atau yang biasa disebut tar sudah dihilangkan dalam proses awal pembuatannya.
Melihat kandungan asap-cair tempurung kelapa seperti fenol dan formaldehid yang berfungsi sebagai antibakteri dan anticendawan, harganya yang relatif murah, dan aman terhadap lingkungan, maka asap-cair perlu dilirik untuk digunakan sebagai pestisida nabati pada tanaman.

Kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji lebih lanjut kemungkinan pengaruh asap cair terhadap mortalitas larva kumbang janur kelapa (Brontispa longissima) di laboratorium.