Selasa, 24 November 2015

PELEPASAN PARASITOID PUPA TETRASTICHUS BRONTISPAE UNTUK MENGENDALIKAN HAMA KUMBANG JANUR KELAPA DI KELOMPOK TANI TUNAS BARU



Di Provinsi Kalimantan Barat, Kumbang Janur kelapa (Brontispa longissima) dan kumbang bibit kelapa (Plesispa reichei) merupakan hama utama pada tanaman kelapa selain hama kumbang utama Oryctes rhinoceros dan telah menyerang secara endemis di beberapa daerah antara lain di kabupaten Pontianak. Tingkat kerusakan akibat serangan hama ini bervariasi dari mulai ringan hingga kerusakan berat. Serangan berat pada bibit kelapa dapat menyebabkan kematian tanaman sedangkan serangan pada tanaman kelapa belum menghasilkan dapat menyebabkan berkurangnya potensi hasil kelapa yang dihasilkan.

Salah satu upaya pengendalian yang dinilai efektif dan efisien adalah dengan menggunakan musuh alami. Salah satu musuh alami dari kumbang janur kelapa adalah parasitoid pupa Tetrastichus brontispae. Tingkat parasitasi musuh alami ini berkisar antara 60-90 %, sementara pada kondisi di lapangan parasitasinya dapat bertahan 30-60%.

Meskipun  mempunyai banyak kelebihan, akan tetapi pengendalian hayati masih belum dapat diaplikasikan dengan baik di lapangan. Hal ini salah satunya dikarenakan kurangnya pengetahuan dan informasi mengenai metode pengendalian hayati di tingkat petani. Oleh karena itu BPTP Pontianak sebagai instansi yang membidangi perlindungan perkebunan perlu lebih mengenalkan metode pengendalian hayati ini kepada petani kelapa khususnya di Kalimantan Barat.

PERBANYAKAN PARASITOID TETRASTICHUS BRONTISPAE T. A. 2015


Hama Kumbang Janur Kelapa dan Kumbang bibit Kelapa (Brontispa longissima dan Plesispa reichei) sudah lama berstatus sebagai organisme pengganggu tumbuhan (OPT) penting di provinsi Kalimantan Barat. Kerusakan tanaman kelapa oleh hama ini terjadi sejak dari mulai pembibitan hingga tanaman dewasa dan menimbulkan kerugian yang cukup besar. Kerugian hasil akibat serangan kumbang ini ditaksir mencapai 57,591.203,8 rupiah dengan luas kerusakan kebun mencapai 2456 hektar di 7 kabupaten di provinsi Kalimantan Barat.

Sejak tahun 2011, BPTP Pontianak melakukan terobosan untuk mulai melakukan pengendalian hayati kumbang janur kelapa ini dengan mengkombinasikan 3 tehnik pengendalian yaitu penggunaan agens hayati entomopatogen Metarhizium  sp dan parasitoid pupa Tetrastichus brontispae serta pengendalian secara mekanis.

Pengendalian hayati baik menggunakan predator, parasitoid maupun jamur entomopatogen berpotensi besar untuk dilakukan pada tanaman perkebunan mengingat karakteristik perkebunan yang relatif rata-rata berukuran lahan luas, serta tanaman-tanaman yang tinggi cukup sulit bila dilakukan pengendalian non hayati karena membutuhkan biaya, waktu, dan tenaga yang besar. Pengendalian secara hayati adalah salah satu solusi untuk mengatasi kendala-kendala tersebut karena cukup mudah dilakukan, berjangka panjang dan tentu saja tidak menimbulkan efek yang membahayakan baik terhadap jasad hidup lainnya, manusia maupun lingkungan.

Rabu, 30 September 2015

BIMBINGAN TEKNIS PENGENDALIAN JAMUR AKAR PUTIH (JAP) PADA TANAMAN KARET DI KABUPATEN LANDAK

Kegiatan ini merupakan sosialisasi/bimbingan teknis (BIMTEK) Pengendalian Penyakit Jamur Akar Putih yang disebabkan oleh Rigidoporus lignosus sebagai OPT Penting Tanaman pada Perkebunan karet, terutama menggunakan Pupuk hayati sekaligus agen pengendali Hayati berbahan aktif jamur antagonis Trichoderma sp yang terlah diformulasi dan terdaftar dengan merek ENDOHEVEA di kabupaten Landak dengan pembiayaan APBD Tingkat I.

Pelaksanaan Bimtek dilakukan dengan cara mengunjungi lokasi dari masing-masing kelompok tani. Materi yang disampaikan dalam bentuk sosialisasi/bimbingan teknis pengendalian dan dilanjutkan praktek cara pengendalian. Materi Bimtek yang disampaikan mencakup:

Kamis, 30 April 2015

BIMBINGAN TEKNIS ETIKA PELAYANAN PUBLIK LINGKUP DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN


Reformasi birokrasi yang bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme aparatur negara dan mewujudkan tata pemerintah yang baik, merupakan jawaban atas tantangan perubahan lingkungan global abad 21. Reformasi birokrasi mengandung makna perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan. Keberhasilan  reformasi birokrasi sangat ditentukan oleh dua hal mendasar yaitu faktor komitmen untuk melaksanakan visi, misi, dan tujuan yang sudah disepakati dan faktor birokrat yang menjalankan pelayanan publik tersebut. Aparat Sipil Negara (ASN) sebagai pengemban amanat dalam penyelenggaraan pelayanan publik, agar mampu menjalankan fungsi dan tugasnya dengan  optimal maka perlu memiliki kompetensi dan profesionalisme serta memegang nilai-nilai/moral dalam bersikap, berperilaku dan bertindak.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut maka dalam rangka untuk mewujudkan profesionalisme aparatur khususnya di bidang pelayanan publik, direktorat jenderal perkebunan menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Etika Pelayanan Publik Lingkup Ditjen Perkebunan pada tanggal 27 – 30 April 2015 di lembaga Pendidikan Perkebunan (LPP) Yogyakarta dengan  diikuti oleh 24 peserta dalam lingkup Ditjen Perkebunan baik di pusat maupun UPT termasuk 2 orang perwakilan dari BPTP Pontianak.

Sabtu, 21 Maret 2015

PENGUJIAN INDUKSI KETAHANAN BIBIT SETEK LADA TERHADAP SERANGAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG (Phytophthora capsici)

ABSTRAK



Erlan Ardiana Rismansyah. 2015. PENGUJIAN INDUKSI KETAHANAN BIBIT SETEK LADA TERHADAP SERANGAN PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG (Phytophthora capsici) TAHUN ANGGARAN 2014. Lada (Piper nigrum L.) sebagai komoditas ekspor yang penting dalam penghasil rempah dan devisa di sub sektor perkebunan rakyat, selalu mengalami masalah penyakit. Diantara berbagai penyakit utama lada, penyakit busuk pangkal batang (BPB) yang disebabkan oleh Phytophthora capsici menjadi kendala utama. Salah satu alternatif untuk menekan patogen tular tanah adalah dengan metoda induksi ketahanan tanaman dengan menggunakan mikroorganisme antagonis atau non patogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan agen penginduksi untuk meningkatkan ketahanan setek lada dalam menekan serangan penyakit BPB. Telah dilakukan pengujian induksi ketahanan bibit lada terhadap penyakit BPB dengan bahan penginduksi berupa agen antagonis (Trichoderma spp), mikroorganisme non-patogenik (Bio-Fob), fungisida sintetik sistemik dan jamur avirulen di Rumah Kasa Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak dari bulan April 2014 - Februari 2015. Hasil Pengamatan menunjukkan Perlakuan induksi bibit setek lada menggunakan Bio-Fob, jamur avirulen dan agen antagonis secara tunggal mampu meningkatkan ketahanan bibit setek terhadap serangan penyakit busuk pangkal batang (P. capsici) dengan  kisaran efektivitas pengendalian sebesar 5,56 % hingga 38,89 %. Sedangkan penggunaan fungisida sintetik tidak dapat menginduksi munculnya ketahanan setek lada. Selain itu Perlakuan menggunakan Biofob juga menyebabkan setek lada dapat tumbuh lebih baik dibandingkan dengan perlakuan kontrol dan perlakuan lain di semua parameter pertumbuhan setek lada yang diamati. Bahkan pada parameter yang secara statistik tidak berbeda nyata dengan  kontrol pun, secar nominal juga menunjukkan hasil paling baik, seperti panjang akar, jumlah akar, dan jumlah tunas yang dihasilkan. Perlakuan menggunakan bahan Biofob mampu menghasilkan parameter terbaik pada jumlah ruas (yaitu sebanyak 6,27 ruas), berat basah (15,93 gram) dan jumlah daun yang dihasilkan setek lada (6,91 daun).

Jumat, 05 September 2014

PANTAI TANAH HITAM KECAMATAN PALOH, KAB. SAMBAS, KALIMANTAN BARAT

Bonus dari perjalanan dinas demplot ke Paloh

Kajian Satu tahun Preservasi Jamur Patogen dan Antagonis dalam Air Steril

Pembuatan kultur cendawan maupun bakteri bertujuan untuk mempertahankan daya tumbuh/viabilitasnya dalam jangka waktu tertentu tanpa mengalami perubahan secara morfologi, fisiologi maupun secara genetik.  Dengan demikian, kultur harus dijaga agar tetap hidup selama dilakukan kajian, bahkan kadang-kadang harus dipertahankan dalam jangka waktu yang tidak  terbatas. Mempertahankan biakan dalam waktu lama menjadi penting terutama jika biakan tersebut  berasal  dari  type  spesimen  atau  type  material  serta  sudah terdaftar di dalam publikasi. Tanpa adanya kultur yang terpelihara baik akan sangat sulit untuk melakukan identifikasi dan perbandingan taksonomi. Perbandingan taksonomi diperlukan dalam penentuan klasifikasi dan pemberian nama bagi takson yang baru.