Kamis, 15 Desember 2011

Peringatan Hari Perkebunan ke-54

“Perkebunan Berkelanjutan Sebagai Penggerak Ekonomi Wilayah”. Demikian tema peringatan Hari Perkebunan ke-54 yang jatuh pada tanggal 10 Desember 2011. Hal ini cukup penting karena pembangunan perkebunan lebih dikembangkan pada daerah-daerah non perkotaan yang masih belum padat dengan pemukiman dan masih besarnya potensi lahan perkebunan. Dengan membangun perkebunan berarti membangun perekonomian suatu daerah. Banyak daerah menjadi lebih berkembang karena adanya usaha perkebunan di daerah tersebut.


Provinsi Kalimantan Tengah merupakan salah satu contoh provinsi yang sektor perkebunan memberikan andil yang nyata terhadap perekonomian daerahnya dengan kontribusi mencapai 12,7 %, hampir sama dengan sektor jasa-jasa dan hanya kalah dari sektor perdagangan, Hotel dan Restoran (Media Perkebunan edisi 97, Desember 2011).



Maka tidak salah, acara puncak Hari Perkebunan tahun ini dilaksanakan di Palangkaraya sebagai ibukota dari Provinsi Kalimantan Tengah dengan dihadiri oleh Menteri Pertanian, Dr. Ir. H. Suswono, Wakil Gubernur Kalimantan Tengah serta pejabat tinggi lainnya. 


Meski Sektor Perkebunan menjadi salah satu penggerak perekonomian banyak wilayah di Indonesia, akan tetapi perkembangannya masih menemui kendala-kendala yang mesti diatasi dan dicari jalan pemecahannya, antara lain masalah isu negatif sekitar perkebunan kelapa sawit, pemanfaatan lahan kosong, serta masalah perusahaan yang masih banyak belum melakukan kewajiban dalam membuka lahan plasma 20 % bagi masyarakat. Tentang masalah yang terakhir ini, Menteri Pertanian mengatakan pihaknya akan mengaudit perusahaan perkebunan. Walaupun demikian kemeterian yang dipimpinnya belum menetapkan target kapan kewajiban itu harus dipenuhi. Beliau menegaskan, dengan disahkannya peraturan yang mengatur perkebunan rakyat, diharapkan dapat menyelesaikan konflik. Apabila, peraturan Kementerian Pertanian (Permentan) No 26/2007 memuat agar pelaku usaha perkebunan menerapkan perkebunan rakyat (Plasma) 20 %.


“Plasma merupakan social cost yang harus dibayar oleh pelaku usaha agar tidak ada konflik, nantinya jangka panjang keuntungan meningkat,” (Kalten Post Terbitan 11 Desember 2011)


Mentan mengatakan bahwa keberhasilan perkebunan sebagai peningkat ekonomi memerlukan dukungan dari seluruh sektor sesuai kewenangannya, tidak hanya dari pelaku usaha, tentunya dengan memperhatikan tugas masing-masing.


Peringatan Hari Perkebunan tahun ini dilaksanakan dengan melaksanakan berbagai kegiatan baik di Jakarta maupun di daerah terutama di Kalteng sebagai host acara puncak. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain Krida Bakti Perkebunan dalam bentuk rehabilitasi lahan, bakti sosial, pemberian bea siswa, bantuan paket komputer dan printer kepada 5 lembaga mandiri yang mengakar di masyarakat, seminar dan workshop yang dilaksanakan di Hotel Aquarius Palangkaraya pada tanggal 9 Desember 2011. Diadakan pula Konferensi Pers di Jakarta dan Palangkaraya, Dialog Interaktif di TV Swasta Metro TV, berbagai lomba, pemberian penghargaan kepada petani, pengusaha, peneliti dan petugas pembina perkebunan serta aparatur pemerintah, kegiatan Lomba Olahraga baik di Jakarta Lingkup Dirjenbun maupun di Palangkaraya, serta Pameran dan Bazzar. Sementara di Kota Medan diadakan pemaparan Master Plan Gallery Museum Perkebunan sebagai tindak lanjut peringatan Hari Perkebunan. 


Mentan didampingi oleh Wagub Kalteng meninjau Pameran seusai Acara Puncak tanggal 10 Desember 2011 (Sumber foto : Kalteng Post) 

Kemeriahan di salah satu stan Pameran Peringatan Hari Perkebunan (Sumber: foto langsung)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar