Rabu, 10 November 2010

Fenomena Eksplosi Hama Ulat Pemakan Daun Kelapa Artona catoxantha


Oleh Ir. Sajarwadi, Ir. Lulus G, MP dan Erlan Ardiana R. *
Serangan ngengat daun kelapa Artona catoxantha Hamps di wilayah Kecamatan Pemangkat Kota, Kabupaten Sambas menarik perhatian berbagai kalangan, baik petani, akademisi, anggota dewan, sampai dengan pejabat di instansi terkait. Mengapa serangan hama ini menarik untuk kita diskusikan? Kita akan mencoba mendalami eksplosi hama (ledakan populasi) Artona dari berbagai perspektif.



Serangan Artona catoxantha di Pemangkat (Foto: BPTP Pontianak)

Dalam perspektif manusia, hama merupakan jasad pengganggu (OPT, Organisme Pengganggu Tanaman) karena memakan tumbuhan yang diusahakan baik secara ekonomis maupun subsisten oleh manusia. sebagai individu, “hama” sesungguhnya adalah herbivora pemakan tumbuhan yang hanya mampu memanfaatkan energi yang telah diolah. dalam hal ini kedudukan hama sesungguhnya lebih merupakan suatu “resiko” bagi suatu usaha budidaya pertanian/perkebunan, bukan sebagai “pengganggu” usaha budidaya. Yang menjadi alasannya diantaranya adalah keberadaan tanaman dalam jumlah banyak, terlebih lagi diupayakan secara monokultur, akan mengundang/menjadi sumber bagi herbivor (hama) untuk melakukan aktivitas biologis, seperti makan, berkembang biak, dan membuat sarang.


Dalam konteks keseimbangan ekosistem, hama juga merupakan salah satu bagian mata rantai dari rantai makanan (food chain). dalam suatu rantai makanan pada ekosistem, gangguan pada salah satu komponennya akan mempengaruhi kestabilan pada komponen yang lain. Kondisi tersebut menyebabkan perlunya strategi dalam menghadapi hama, dengan mengingat tujuan utama adalah tetap mempertahankan populasi hama pada tingkat keseimbangan dengan penyusun rantai makanan lainnya. pengendalian bukanlah memusnahkan jenis-jenis hama yang hadir, tetapi menjaga keseimbangan ekologi.

Ngengat daun kelapa Artona catoxantha merupakan salah satu hama penting dan bagian dari mata rantai makanan pada tanaman kelapa. Serangan hama ini dalam waktu singkat dapat menyebabkan terjadinya kerusakan yang signifikan pada daun tanaman dan merupakan petani kelapa, walaupun akibat serangannya tidak sampai menyebabkan kematian tanaman kelapa. Sebagai ilustrasi: serangan hebat pada kebun kelapa akan menyebabkan buah termuda gugur, dan disusul gugurnya buah-buah kelapa yang lebih tua; mengakibatkan tanaman kelapa tidak berbuah selama kurun waktu 2-4 tahun. Dari hasil penelitian Balai Penelitian Kelapa Pakuwon, daun tua (daun nomor 16-22) lebih banyak dikonsumsi hama dibandingkan dengan daun setengah tua (nomor 11-15), masing-masing 49.05% dan 34-36%.

Akibat dari serangan Artona catoxantha bila tidak dilakukan tindakan pengendalian dan terjadi serangan lanjutan adalah tanaman kelapa tidak menghasilkan buah sampai periode 1-1,5 tahun setelah terjadinya serangan. Apabila tidak terjadi serangan lanjutan, tanaman akan berbuah dengan total produksi 3-10 % dari produksi total. Pada tahun kedua, kelapa berbuah 50-75% dari produksi normal, dan baru pada tahun keempat produksi tanaman kelapa normal kembali, dengan asumsi bahwa selama masa pemulihan dilakukan perawatan tanaman secara intensif. serangan Artona yang terjadi pada musim kemarau akan menyebabkan dampak kerugian lebih besar dibandingkan dengan serangan yang terjadi pada musim penghujan.

Sebagai ilustrasi dari uraian diatas, estimasi kehilangan hasil produksi kelapa mulai dari saat tanaman terserang sampai tanaman dapat kembali berproduksi seratus persen adalah Rp. 11.574.030,- per hektar (asumsi harga kopra tetap Rp. 3900,-; produktivitas 1.006 kg/hektar/tahun) (produktivitas rata-rata Kab Sambas, Data Statistik Perkebunan Kalimantan Barat tahun 2008). Angka kehilangan hasil tersebut tentunya akan semakin besar apabila tidak sesegera mungkin dilakukan pengendalian hama eksplosi.

Pengaruh Faktor Internal dan Ekstral Terhadap Dinamika Populasi Artona
Pada kondisi lapangan, populasi hama akan dibatasi oleh faktor internal dan eksternal. Kondisi eksteral seperti populasi musuh alami yang melimpah, kondisi cuaca dan iklim yang tidak ideal bagi kehidupan serangga serta tehnik budidaya yang tepat akan tetap menjaga populasi hama di bawah ambang ekonomi sehingga tidak merugikan secara ekonomis. Bila salah satu saja dari faktor-faktor pembatas eksternal tersebut berubah, akan muncul reaksi dari serangga hama diantaranya terjadinya fluktuasi populasi serangga hama.

Fluktuasi  populasi hama Artona catoxantha sangat terkait dengan faktor dari dalam serangga hama dan keadaan lingkungan luar. Faktor dari dalam diantaranya adalah kemampuan berkembang biak; fekunditas (kemampuan bertelur imago betina), siklus hidup (dari telur menetas sampai imago meletakkan telur pertama) yang pendek. Keadaan lingkungan luar yang mempengaruhi fluktuasi populasi diantaranyanya: temperatur yang mempengaruhi aktivitas serangga, penyebaran geografis dan lokal, perkembangan (development) serangga; kelembaban yang berpengaruh pada preferensi serangga  terhadap tempat hidup, cahaya yang mempengaruhi aktivitas harian serangga, curah hujan berpengaruh terhadap kelembaban dan aktivitas musuh alami terutama jamur patogen, serta angin yang berpengaruh terhadap pemencaran Artona. 

Secara tidak langsung, iklim dapat mempengaruhi vigor dan fisiologi tanaman kelapa sebagai tanaman inang, yang akhirnya mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap Artona. Temperatur berpengaruh terhadap sintesis senyawa metabolit sekunder seperti alkoloid, falvanoid yang berpengaruh terhadap ketahananya terhadap hama.

Faktor ketersediaan makanan, musuh alami dan atau kompetitor lainnya sering menjadi pembatas peningkatan populasi cepat bertambah.

Perkembangan populasi gengat daun kelapa dihambat oleh berbagai parasitoid seperti Apanteles artonae Wlk, Neuplectrus bicarinatus Ferr., Bessa remota Towns, Argyrophylax fumipennis Aldr., Euplectromorpha viridiceps Ferr., dan parasitoid Fislistina infera Szepl. yang menyerang stadium kelompong (pupa). Parasitoid di daerah yang tidak terjadi eksplosi dapat berperan dalam mengendalikan populasi inangnya terutama parasitoid Apanteles artonae. Di daerah yang sedang meledak terjadi penurunan populasi parasitoid Apanteles artonae yang disebabkan oleh serangan hiperparasitoid Eurytoma albotibialis Ashm. Pada kasus eksplosi Artona di wilayah Pemangkat, ditemukan pupa yang menunjukkan gejala terparasit. Tetapi diduga perkembangan populasi parasitoid tersebut tidak mampu mengimbangi pertumbuhan populasi Artona.

Kehadiran hiperparasitoid Eurytoma albotibialis yang menyerang parasitoid A. artonae, menimbulkan penumpukan individu dan menyebabkan terjadinya ledakan ngengat daun kelapa Artona catocantha.

Penyebab Terjadi Eksplosi Hama Artona
Terjadinya lonjakan populasi Artona yang sangat cepat dalam kurun waktu yang singkat (eksplosi) terjadi sebagai efek dari beberapa faktor diatas yang saling terkait satu sama lain.

Seperti dijelaskan diatas, Artona adalah serangga yang mempunyai siklus hidup singkat dengan laju repoduksi, tingkat fekunditas cukup tinggi. Seekor ngengat betina mampu menghasilkan sebanyak 40-60 butir telur selama hidupnya. Pada kepadatan populasi tinggi, dapat dibayangkan jumlah telur yang dihasilkan. Dengan masa hidup yang pendek (rata-rata 35 hari) dalam satu tahun dapat dihasilkan 9 generasi Artona. Pola dinamika populasi Artona catoxantha di daerah yang sedang meledak juga akan naik lebih cepat dengan puncak populasi sangat tinggi (lebih dari 1000 ekor per pohon).

Faktor pendukung terjadinya eksplosi Artona antara lain ketersediaan daun kelapa sebagai sumber pakan, kondisi cuaca yang sangat mendukung, kurang berperannya musuh alami, belum berjalannya sistem pengamatan hama yang kontinyu sehingga potensi serangan Artona pada tingkat awal tidak terpantau, terlambatnya upaya pengendalian pada saat populasi Artona masih rendah.

Dalam kasus ledakan populasi hama Artona di Wilayah Pemangkat, perubahan curah hujan selama bulan Januari hingga Maret 2010 diduga mejadi salah satu faktor pemicu ledakan populasi Artona. Data curah hujan pada bulan Januari 2010 sebesar 382 mm dengan 10 hari hujan. Angka ini menurun dengan cepat pada bulan Februari menjadi 137 mm dengan 10 hari hujan (Sumber: UPPT Pemangkat). Cuaca bulan februari yang fluktuatif (turun hujan gerimis saja) menyebabkan kondisi lingkungan menjadi lebih ideal bagi perkembangbiakan hama Artona sehingga populasi hama meningkat dengan cepat sepanjang bulan Februari dan terjadi eksplosi di bulan Maret 2010. Tidak menutup kemungkinan dalam beberapa bulan ke depan, bila cuaca masih relatif sama, banyak hari kering dengan jumlah hujan yang rendah, eksplosi masih berlangsung. Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian lebih dengan cara melakukan monitoring secara intensif di lokasi terserang dan di lokasi pertanaman kelapa sekitarnya.

Solusi Pengendalian
Melihat ciri khas hama ini, pengamatan yang teratur dan berkesinambungan merupakan “kunci sukses” yang penting dalam pengendalian secara terpadu. Selain itu, pemilihan metode pengendalian perlu disesuaikan dengan faktor pengendali alami agar efisiensi dan efektivitas tindakan yang dilaksanakan dapat dipertahankan. Dengan perkataan lain, implementasi PHT merupakan alternatif yang paling tepat terhadap hama tersebut.

Monitoring dan Pengendalian Hama Artona
Dalam rangka mencegah terjadinya eksplosi ulangan hama Artona di pertanaman kelapa wilayah Pemangkat, beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain: Melakukan pengendalian secara terpadu, diikuti monitoring lanjutan paska pengendalian. Monitoring dapat dilakukan bulanan, menyesuaikan dengan siklus hidup Artona.

Alternatif pengendalian yang dapat dilakukan secara terpadu adalah pengendalian mekanis dengan cara memangkas daun yang terserang (pada saat ulat berukuran 8 mm) dan dibakar; secara kimiawi dengan cara injeksi batang, infus akar dengan insektisida sistemik serta fogging (pengasapan) dan penyemprotan (spraying) dengan insektisida kontak.

Belajar dari pengalaman eksplosi Artona di Pemangkat, estimasi biaya pengendalian secara terpadu meliputi pemangkasan, pengendalian kimiawi, upah kerja dan lainnya adalah + Rp. 836.517,-. Biaya tersebut tentunya akan lebih kecil apabila pengendalian dilakukan sesegera mungkin setelah diketahui adanya serangan hama. Tentunya  responsibilitas terhadap serangan hama tersebut juga dapat menyelamatkan angka kehilangan hasil yang lebih besar.

Para stakeholders mempunyai kewajiban dalam rangka monitoring, pencegahan dan pengendalian terpadu sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995. Petani dan pemilik kebun wajib melaporkan kepada petugas pengamat hama (UPPT) setempat apabila terjadi serangan hama. Petugas Pengamat Hama (UPPT) berkewajiban melakukan pembinaan kepada petani, melakukan pengamatan di wilayah kerjanya, dan melaporkan kepada atasan langsungnya apabila terjadi serangan hama. Pemerintah berkewajiban melaksanakan pengendalian pada saat terjadi eksplosi hama. Untuk itu, pemerintah dalam hal ini instansi-instansi terkait baik di tingkat provinsi maupun kabupaten kota, berkewajiban mengalokasikan anggaran yang siap digunakan pada saat terjadi eksplosi hama tanaman, terutama untuk daerah-daerah yang sudah diketahui merupakan kantong serangan (wilayah endemik) hama tertentu.


(by Erlanardianarismansyah)

*Kepala dan Staff Balai Proteksi Tanaman Perkebunan Pontianak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar