Kamis, 02 Maret 2023

BIMBINGAN TEKNIS PETUGAS PERLINDUNGAN PERKEBUNAN BPTP PONTIANAK T.A. 2023 DI THE HALL CONVENTION CENTRE QUBU RESORT, 27-28 FEBRUARI 2023



Dalam rangka peningkatan kapabilitas petugas pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan petugas teknis Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak, BPTP Pontianak pada tahun anggaran 2023 melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis Petugas Perlindungan Perkebunan BPTP Pontianak pada tanggal 27 Februari 2023 dengan bertempat di The Hall Convention Centre Qubu Resort Jl Arteri Supadio Nomor 16 Kabupaten Kubu Raya.

Bimbingan Teknis Pontianak diikuti oleh seluruh petugas UPPT dan petugas teknis BPTP Pontianak serta dilaksanakan mulai pukul 07.30 WIB hingga selesai oleh beberapa narasumber dengan materi meliputi :

1.     Sambutan Kepala BPTP Pontianak

2.     Program Kerja BPTP Pontianak T.A. 2023 oleh Kepala BPTP Pontianak

3.     Komunikasi Pertanian oleh Dr. Iwan Sasli, S.P., M.Si

4.     Pengamatan dan Pelaporan OPT Perkebunan Oleh Ir. Evy Taviana PS, MSi

5.     Workshop Pelaporan OPT Perkebunan Oleh Ir. Evy Taviana PS, MSi

6.     Early Warning System oleh Erwin Irawan P, S.P

7.     Pengendalian OPT oleh Erlan Ardiana Rismansyah

8.     Dinamika Kelompok oleh M. Salman Akhyar, S.Si

 

Merujuk pada penugasan dengan surat tugas nomor 477/TU.040/E5.6/02/2023 dan surat nomor 517/TU.040/E5.6/02/2023 (surat penugasan terlampir), Sdr. Koordinator BPT ditunjuk sebagai salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut dengan materi Pengendalian OPT. Adapun isi ringkasan materi tersebut adalah sebagai berikut :

Materi Pengendalian OPT yang disampaikan dalam bentuk presentasi secara khusus membahas tentang Pengendalian Penyakit Gugur Daun Karet Pestalotiopsis serta perkembangan kegiatan pengendalian yang telah dilaksanakan oleh BPTP Pontianak sejak 2019 hingga saat ini.

Sebagaimana diketahui bahwa tanaman karet merupakan salah satu andalan komoditas perkebunan di Provinsi Kalimantan Barat dimana luas areal pertanaman karet di Provinsi Kalimantan Barat mencapai 597.587 hektar dengan pola pengusahaan perkebunan rakyat oleh 319.396 orang pekebun (Data Statistik Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat, tahun 2015). Akan tetapi dalam beberapa tahun terakhir, Industri perkebunan karet alam menghadapi tantangan berat karena melemahnya harga karet di pasar global. Kondisi ini diperparah dengan munculnya serangan penyakit tanaman yang mengakibatkan menurunnya produktivitas tanaman. Baru-baru ini, terjadi serangan penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh jamur Pestalotiopsis sp yang awalnya diduga disebabkan oleh Jamur Fusicoccum sp. Jamur tersebut menyebabkan defoliasi daun dari kebanyakan klon yang ditanam di perkebunan karet di Sumatera sebagai daerah penghasil karet utama di Indonesia.

Penyakit gugur daun Fusicoccum dan Pestalotiopsis ini pertama kali outbreak di perkebunan karet Malaysia pada tahun 1987 dan 2003.  Sedangkan di Indonesia penyakit gugur daun outbreak pertama kali pada tahun 2016 menyebar dari pertanaman karet di Sumatera Utara sampai Sumatera Selatan. Sampai dengan pertengahan tahun 2018, serangan penyakit ini menyebar ke  Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Tengah.  Total luas serangan penyakit ini lebih dari 22.000 Ha sehingga menyebabkan kehilangan kanopi tanaman > 50% dan kehilangan produksi lateks > 25%. Di Provinsi Kalimantan Barat penyakit ini diduga telah menyebar di seluruh sentra penanaman karet dengan luas serangan mencapai 2.537,97 hektar dan upaya pengendalian yang dilaksanakan telah mencapai 360 hektar.

Penyakit GDK Pestalotiopsis disebabkan oleh jamur patogen Pestalotiopsis dan memiliki gejala serangan sebagai berikut :

1.     Menyerang pada daun yang tua/mature

2.     Terbentuknya bercak berukuran 0,5-2 cm yang terutama melebar sehingga jaringan di sekitar bercak mengalami nekrosis (kematian jaringan) pada bagian tengah daun

3.     Helaian daun menguning yang terjadi secara sporadis dan kemudian daun menjadi gugur atau tidak terjadi perubahan warna

Kondisi lingkungan yang mendukung perkembangan penyakit adalah kelembaban nisbi udara dan curah hujan yang tinggi. Kondisi tanaman yang lemah, kekurangan nutrisi, sistem eksploitasi yang berat dan pengendalian penyakit sebelumnya yang tidak tuntas yang menyebabkan penyakit ini semakin parah.


Terdapat 3 tehnik pengendalian GDK pestalotiopsis yang harus dilaksanakan yaitu Pemupukan, Pengasapan dan Penyemprotan daun karet yang gugur di permukaan tanah.

1. PEMUPUKAN

Pemupukan bertujuan untuk mempercepat tanaman karet menumbuhkan daun-daun yang baru. Pemupukan dilaksanakan 2 kali dalam satu tahun dengan jumlah pupuk yang diberikan sebesar pupuk standar + 25% yaitu sebagai berikut:

a.     Pupuk N (urea) sebanyak 437,5 gram per pohon atau 218,75 kg per hektar

b.     Pupuk P sebanyak 375 gram per pohon atau 187,5 kg per hektar

c.      Pupuk K (KCl) sebanyak 312,5 gram per pohon atau  156,25 kg per hektar

d.     kapur pertanian sebanyak 98,75 gram per pohon 49,375 kg per hektar

2. PENGASAPAN FOGGING GDK KARET

Pengasapan menggunakan fogging merupakan pengendalian yang bertujuan untuk melindungi daun-daun yang baru muncul dan daun dewasa yang masih berada di bagian atas tanaman, sekaligus mengendalikan jamur penyakit. Pengendalian pengasapan menggunakan alat berupa fogging.

Untuk sekali membuat larutan fogging dibutuhkan  : Solar 4 liter, Fungisida 500 ml, Emulgator 100 ml, Air 1.000 ml (1 liter). Selain bahan tersebut, untuk menyalakan alat fogging juga membutuhkan 1 buah busi, 4 buah baterai tipe D (baterai besar), dan bensin murni sebagai bahan bakar.

Waktu aplikasi :

Aplikasi pengasapan sebaiknya dilaksanakan sebanyak 3 kali dengan interval 1-2 bulan. Pengasapan dilaksanakan pada malam hari (idealnya) tetapi dapat juga dilaksanakan pada sore menjelang malam (jam 18.00) sampai pagi (jam 06.00). pelaksanaan oleh 3 orang dengan rincian 1 orang mengoperasionalkan alat dan 2 orang memandu.

3. PENYEMPROTAN PERMUKAAN TANAH

Selain melaksanakan pengasapan untuk pengendalian penyakit yang ada di bagian atas tanaman, pengendalian juga dilakukan terhadap daun-daun yang gugur diatas permukaan tanah yang masih mengandung jamur penyakit. Aplikasinya dengan cara penyemprotan menggunakan sprayer punggung. 






Selain tehnik pengendalian Penyakit GDK Pestalotiopsis, disampaikan pula kegiatan pengendalian Penyakit GDK Pestalotiopsis oleh BPTP Pontianak sejak tahun 2019 hingga 2022.


Setelah penyampaian materi presentasi, maka dilakukan sesi tanya jawab dimana salah satu pertanyaannya adalah tentang kemungkinan penggunaan injeksi batang sebagai alternatif pengendalian selain metode pengendalian yang sudah dilaksanakan. Hasil diskusi diperoleh bahwa penggunaan injeksi batang kurang direkomendasikan dan terlihat tidak begitu cocok untuk penyakit GDK Pestalotiopsis mengingat bahwa tanaman karet merupakan tanaman yang termasuk kelompok dikotil dan memiliki jaringan kayu yang rentan terhadap kerusakan bila dilakukan pengeboran, selain itu penggunaan tehnik ini berarti bahwa setiap tanaman harus dilakukan perlakuan sehingga sangat berat untuk dilakukan terlebih bahwa penyakit GDK ini menyebar dengan metode tular udara sehingga bila terdapat kebun yang terserang maka hampir semua tanaman harus diberi perlakuan.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar