Selasa, 24 November 2015

PERBANYAKAN PARASITOID TETRASTICHUS BRONTISPAE T. A. 2015


Hama Kumbang Janur Kelapa dan Kumbang bibit Kelapa (Brontispa longissima dan Plesispa reichei) sudah lama berstatus sebagai organisme pengganggu tumbuhan (OPT) penting di provinsi Kalimantan Barat. Kerusakan tanaman kelapa oleh hama ini terjadi sejak dari mulai pembibitan hingga tanaman dewasa dan menimbulkan kerugian yang cukup besar. Kerugian hasil akibat serangan kumbang ini ditaksir mencapai 57,591.203,8 rupiah dengan luas kerusakan kebun mencapai 2456 hektar di 7 kabupaten di provinsi Kalimantan Barat.

Sejak tahun 2011, BPTP Pontianak melakukan terobosan untuk mulai melakukan pengendalian hayati kumbang janur kelapa ini dengan mengkombinasikan 3 tehnik pengendalian yaitu penggunaan agens hayati entomopatogen Metarhizium  sp dan parasitoid pupa Tetrastichus brontispae serta pengendalian secara mekanis.

Pengendalian hayati baik menggunakan predator, parasitoid maupun jamur entomopatogen berpotensi besar untuk dilakukan pada tanaman perkebunan mengingat karakteristik perkebunan yang relatif rata-rata berukuran lahan luas, serta tanaman-tanaman yang tinggi cukup sulit bila dilakukan pengendalian non hayati karena membutuhkan biaya, waktu, dan tenaga yang besar. Pengendalian secara hayati adalah salah satu solusi untuk mengatasi kendala-kendala tersebut karena cukup mudah dilakukan, berjangka panjang dan tentu saja tidak menimbulkan efek yang membahayakan baik terhadap jasad hidup lainnya, manusia maupun lingkungan.


Pengembangan parasitoid Tetrastichus brontispae sudah lama digunakan untuk wilayah lain di Indonesia. Sejak diteliti oleh Leefman pada tahun 1920, parasitoid ini dikenal paling efektif untuk mengendalikan kumbang janur kelapa. Di Sulawesi introduksi penggunaan parasitoid ini telah dilakukan pada tahun 1932 dimana selama 3 tahun telah dikirim sebanyak 37,500 pupa terparasit dari Bogor ke Makasar dan telah didirikan pula 10 pusat perbanyakan massal parasitoid di Sulawesi Selatan untuk disebarkan di berbagai daerah di Sulawesi pada tahun 1937-1940-an (Rethinam, P And S.P. Singh. 2007).

Di Kalimantan Barat sendiri telah diketahui adanya parasitoid Tetrastichus brontispae dan mulai tahun 2011 hingga saat ini telah dilakukan perbanyakan massal parasitoid T. Brontispae untuk digunakan dalam program pengendalian hayati Kumbang Janur Kelapa baik dalam bentuk kerjasama pengendalian dengan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Barat, maupun kegiatan BPTP Pontianak sendiri yang berbentuk Demplot, Uji Pengendalian maupun bantuan pengendalian berupa pelepasan parasitoid di tingkat petani. Pengembangan tehnik eksplorasi, perbanyakan, pelepasan di lapangan serta evaluasinya perlu diperbanyak sehingga pemantapan pengendalian hayati menggunakan parasitoid Tetrastichus brontispae dapat cepat diimplementasikan di provinsi Kalimantan Barat.

Pada Tahun Anggaran 2015, BPTP Pontianak telah melakukan kegiatan perbanyakan massal parasitoid Tetrastichus brontispae sebanyak 900 pupa terparasit yang didistribusikan ke Pusat Studi Pengelolaan Sumber Daya Hayati Universitas Gadjah Mada Yogyakarta sesuai permintaan yaitu sebanyak 100 koker (atau 500 pupa terparasit) dan sisanya yaitu sebanyak 80 koker (atau 400 pupa terparasit) digunakan untuk dilepaskan untuk pengendalian di tingkat petani kelapa di wilayah Kecamatan Sungai Pinyuh Kabupaten Mempawah provinsi Kalimantan Barat.

Tahap pelaksanaan kegiatan perbanyakan adalah sebagai berikut :

Eksplorasi Parasitoid Kumbang Janur Kelapa

Sebagai langkah awal kegiatan perlu disediakan parasitoid T. brontispae. Untuk memperoleh parasitoid dari kumbang janur kelapa maka perlu dilakukan eksplorasi dan koleksi stadia kumbang janur kelapa dari lokasi kebun kelapa yang terserang oleh kumbang janur kelapa. Eksplorasi parasitoid telah dilakukan di beberapa tempat dengan hasil sebagai berikut:

Tanggal
Lokasi
04 Juni 2015
Sungai Raya
10 Juni 2015
Sungai Kakap
17 Juni 2015
Sungai Kakap
25 Juni 2015
Sungai Kakap
01 Juli 2015
Sungai Kakap
08 Juli 2015
Siantan (PT. MAS)
30 Juli 2015
Sungai Duri


Langkah Kegiatan Dalam Eksplorasi Parasitoid adalah sebagai berikut:

Ambil janur kelapa yang terserang oleh kumbang janur dengan cara
a) Ikat janur kelapa pada 2 tempat yaitu bagian atas dan tengah janur sebelum dipotong agar ketika memotong janur kelapa, stadia kumbang tidak jatuh ke tanah
b) lakukan pemotongan dengan hati-hati
c) janur yang sudah dipotong kemudian dimasukkan ke dalam kain/kantong kasa/karung dan selanjutnya dibawa ke laboratorium
d) Lakukan pemisahan antara pupa yang sehat dengan pupa terparasit. Pupa terinfeksi dibedakan dari pupa sehat dengan tanda-tanda sebagai berikut: pupa yang terinfeksi akan menjadi  tegang  (lurus) dan  tidak  bergerak, warna pupa kecoklatan (coklat tua), dan ukuran pupa membengkak (lebih besar dari ukuran pupa yang sehat).


Gambar : Kegiatan Eksplorasi dan Pengambilan Starter Parasitoid dan Inang


Perbanyakan Parasitoid Tetrastichus brontispae di laboratorium

Selanjutnya tahap kegiatan perbanyakan parasitoid dibagi menjadi 2 bagian yaitu : Pemeliharaan Pupa sehat dan Pemeliharaan parasitoid

Pemeliharaan dan Penyediaan Pupa Sehat

Kegiatan pemeliharaan pupa sehat ini ini bertujuan untuk menyediakan inang berupa stadium pupa bagi parasitoid untuk nantinya digunakan dalam pelepasan di lapangan  dan juga untuk kegiatan pemeliharaan parasitoid selanjutnya.

Langkah kerjanya adalah sebagai berikut:

a) Stadia telur, larva dan pupa kumbang kelapa yang diperoleh di lapangan dimasukkan dengan menggunakan kuas hitam ke dalam wadah toples plastik yang telah berisi janur segar yang bebas dari pestisida sebagai tempat pemeliharaan
b) Untuk memperoleh hasil yang seragam nantinya, sebaiknya masing-masing stadium kumbang ditempatkan pada wadah terpisah.
c) Tutup kotak plastik dengan kain kasa putih sebagai jalan masuk udara/ventilasi. untuk menghindari gangguan semut atau binatang lain, tempatkan kotak plastik tersebut diatas gelas yang dialasi piring kecil yang telah diisi air
d) Setiap dua hari sekali daun kelapa (pakan) diganti dengan daun baru yaitu dengan cara memindahkan hama ke wadah baru yang telah dibersihkan  dengan tisu dan diisi dengan daun kelapa baru yang tidak terkena insektisida. Pemindahan menggunakan kuas halus. Pemeliharaan dilakukan hingga hama mencapai stadium pupa atau pre-pupa (ditunjukkan dengan bagian kepala telah menjadi hitam).

Pemeliharaan dan Penyediaan Parasitoid

Individu parasitoid tidak langsung diperoleh dari lapangan, akan tetapi dalam bentuk pupa terparasit. Pupa terparasit yang diperoleh selanjutnya dipelihara di laboratorium hingga muncul parasitoid. Langkah kegiatannya adalah sebagai berikut:

a) Pisahkan pupa terparasit yang diperoleh dari lapangan dari pupa sehat
b) masukkan 1-2 pupa terparasit ke dalam tabung reaksi kemudian mulut tabung ditutup dengan kain kasa
c) tabung berisi pupa terparasit kemudian dipelihara dengan ditempatkan pada nampan yang diletakkan diatas gelas yang dialasi piring kecil yang telah berisi air untuk menghindari gangguan semut dan binatang lain. Tunggu hingga parasitoid menetas dan keluar dari pupa.  

 
Gambar : Perbanyakan Parasitoid di Laboratorium

Perbanyakan Parasitoid dengan Infeksi Pupa Sehat di Laboratorium

Langkah kegiatannya adalah sebagai berikut:

a. Untuk setiap tabung (volume kurang lebih 130 ml) dimasukkan pupa dan parasit dengan rasio yang telah ditentukan. Beri makan parasit dengan madu yang telah diencerkan (50%) dengan cara mengoles pada permukaan kertas lilin secara tipis dan merata

b. Infeksikan parasit selama 48 jam (2 hari) sesudah itu pupa dipindahkan dalam tabung bersih lainnya. Tabung yang berisi parasit dapat digunakan lagi untuk menginfeksi pupa yang sehat. Hal ini dapat dilakukan sampai parasit mati.

c. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk mengetahui daya infeksi parasit dan siklus hidup parasit di laboratorium.

d. Parasit yang baru keluar ditempatkan dalam tabung pipa lain, kemudian ke dalam tabung dimasukkan pupa pupa sehat untuk diinfeksi


Persiapan Pelepasan Parasitoid di Lapangan

Pelepasan parasitoid dilakukan dalam bentuk pupa terinfeksi yang dimasukkan ke dalam wadah yang disebut koker. Setiap koker berisi 5 pupa terparasit dan dosis aplikasi untuk setiap hektar adalah 5 koker atau 25 pupa terparasit. Koker yang berisi pupa terparasit diletakkan di dekat janur kelapa yang terserang dengan cara diikatkan menggunakan tali atau kawat.

Pengiriman parasitoid ke Yogyakarta, pupa terparasit dimasukkan ke dalam wadah botol kecil bening dengan tutup drat sebagai ganti wadah koker dan sebanyak 100 botol. Sebelum pengiriman dilakukan dibuat surat pengantar dan surat jalan dari Karantina Pertanian. Pengiriman ke Yogyakarta dilakukan dalam dua tahap yaitu pada tanggal 23 dan 20 Agustus 2015 masing-masing sebanyak 50 koker (250 pupa terparasit).


Gambar : Persiapan dan Pelepasan Parasitoid Tetrastichus brontispae di Lapangan

Kesimpulan

Dari Kegiatan Perbanyakan Massal Parasitoid Tetrastichus brontispae T. A. 2015 telah berhasil diperbanyak dan dilepaskan parasitoid sebanyak 900 pupa terparasit dengan luasan pengendalian sebesar 36 hektar dengan rincian sebanyak 500 pupa terparasit dikirim ke Yogyakarta dan 400 pupa terparasit dilepaskan di Kalimantan Barat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar